Latar Belakang Clear Channel
Teknologi
Jaringan Lokal Akses Fiber merupakan suatu teknologi penggunaan kabel serat
optik sebagai media tranmisi dalam sistem telekomunikasi. teknologi serat optic
menghantarkan gelombang berupa sinyal cahaya untuk menghantarkan informasi data.
Layanan
Clear Channel adalah layanan jaringan telekomunikasi non protocol (Clear Channel) berbasis teknologi SDH yang menggunakan
media tranmisi end to end
Fiber optic, sehingga memiliki
tingkat kehandalan dan keamanan yang tidak terbatas. ICON+ Clear Channel
merupakan layanan komunikasi data dengan sistem koneksi dedikasi antara satu
lokasi dengan lokasi lannya(point to
point). ICON+ Clear channel memiliki kapasitas mulai dari 2Mbps(E1) sampai
dengan 10Gbps (STM 64) dengan waktu koneksi tidak terbatas.
Clear
Channel bila diartikan, adalah “saluran bersih” yang bermakna “suatu jaringan end to end yang hanya dimiliki suatu
organisasi atau pribadi tanpa melalui jaringan global ataupun internet.”
Sehingga jaringan ini bersih atau aman dari pencurian data. Di provider sendiri,
provider hanya menyediakan jalur dan perangkat converternya saja, sedangkan untuk kebutuhan lainnya, diserahkan
langsung kepada User sebagai pemilik
kebutuhan.
Adapun kelebihan dari layanan ini diantaranya :
1.
Jaringan koneksi yang sangat aman
2.
Dalam 1E1 mampu mengirimkan data sebesar 2Mbps
3.
Kecepatan pengiriman datanya sangatlah stabil
4.
Tidak melalui jalur public atau global
5.
Pada umumnya, Clear Channel tidak
menggunakan catalyst dan router pembagian bandwitch
diatur di PDH
Alat-Alat Pendukung Clear Channel
3.2.1 FOT
Fiber optic Terminal adalah
suatu perangkat sistem sebagai terminal atau sentral penghubung antar sambungan
serat optic dengan layanan yang dihubungkan oleh pengguna. Berikut beberapa
perangkat tersebut:
1.SDH(Shyncronous Digital Hierarchy)
SDH merupakan hirarki multiplexing dan Demultiplexing pembawa kapasitas berbasis data berjumlah besar contohnya untuk tranmisi pada backbone. SDH mampu membawa bandwith mulai dari 1 STM sampaiS STM 64
.
Gambar 3.1 Multiplexing SDH
SDH
memiliki dua keuntungan pokok yaitu fleksibilitas yang demikian tinggi dalam
hal konfigurasi kanal pada simpul-simpul jaringan dan meningkatkan kemampuan
manajemen jaringan baik untuk payload traffic-nya maupun elemenelemen
jaringan[5]. Secara bersama-sama, kondisi ini akan memungkinkan jaringannya
untuk dikembangkan dari struktur transport yang bersifat pasif pada PDH ke
dalam jaringan lain yang secara aktif mentransportasikan dan mengatur
informasi.
2. PDH
(Plesiochronous Digital Hierarchy)
PDH secara sederhana fungsi
PDH yaitu sebagai media konverter dari optikal menjadi E1 atau sebaliknya.PDH
menggunakan suatu sistem multiplexing aau penggabungan beberapa sinyal yang
telah digabung tersebut akan dipisahkan kembali pada sisi penerima sesuai dengan
tujuan masing masing.
Plesiochronous
Digital Hierarchy (PDH) adalah teknologi yang digunakan dalam jaringan telekomunikasi untuk
mengangkut sejumlah besar data melalui peralatan transportasi digital
seperti serat optik dan microwave radio sistem. Istilah plesiochronous berasal dari plēsiosYunani,
yang berarti dekat, dan chronos, waktu, dan mengacu pada
kenyataan bahwa jaringan PDH dijalankan dalam keadaan di mana bagian yang
berbeda dari jaringan hampir, tapi tidak cukup sempurna, disinkronisasi . PDH untuk mentransmisikan
sinyal digital pada system komunikasi
serat optik tersebut, maka dilakukan proses multiplexing
dalam pemrosesan sinyal digitalnya.
3. OTB (Optical
Terminal Box)
OTB adalah terminasi fiber optic yang ada pada rak atau kotak. Biasanya OTB berada di dinding sedangkan ODF berada di rak.Dengan kata lain OTB merupakan tempat brtemunya kabel fiber optic dan patchcord.
Gambar 3.2 Perangkat
OTB
4. Rici E1Fungsi Rici E1 adalah modul converter yang mengubah dari sinyal E1 ke sinyal Ethernet atau sebaliknya.1 E1=2 Mbps. Pada rici E1 ada dua tipe port yaitu port untuk ethernet dan port untuk E1.
Gambar
3.3 RICI
5.Patchcord
Patchcord adalah salah satu kabel fiber optic namun dengan fungsi penghubung langsung ke perangkat. Ukurannya yang kecil dan memiliki bermacam macam interface, seperti FC (bulat besar),SC (kotak besar) dan LC (kotak kecil).
Gambar 3.4 Patchcord
3.2.2
FOC
Seluruh perangkat atau biasanya
media tranmisi yang berada di luar ruangan (outdoor) seperti kabel fiber
opti,joint box, suspension, dead end, splicer dsb. Sebelum kabel fiber optik di
tarik, hal yang perlu diketahui adalah Right
of Way(RoW). RoW merupakan jalur dimana kabel fiber optic dilewatkan.
Adapun macam macam RoW yaitu udara,bawah tanah dll. Dengan adanya RoW tata
kelola kabel fiber optic lebih baik. ICON + lebih banyak menggunakan RoW udara
karena ICON + menggunakan tiang tiang PLN.karena itu ICON+ menyediakan jalur
hingga ke penjuru desa yang terdapat tiang listriknya.
3.2.3 Perangkat Lunak
1.Hyper Terminal
HyperTerminal adalah sebuah program yang dirancang untuk melaksanakan fungsi komunikasi dan emulasi terminal. HyperTerminal memanfaatkan port serial dan kontrol yang terkait dengan perangkat eksternal. Perangkat ini dapat bervariasi dan meliputi opsi sebagai peralatan komunikasi radio, robot, dan alat-alat yang digunakan untuk pengukuran ilmiah dan usaha serupa. Koneksi yang disediakan oleh HyperTerminal memudahkan untuk mengambil data dari sumber-sumber ini, serta dapat mengeksekusi perintah ke perangkat dari sistem komputer utama.
Gambar 3.5 Hyper
Terminal
2. NetPerSec
NetPerSec adalah perangkat lunak untuk mengukur Traffic data dari komputer menuju gateway. Perangkat lunak ini dapat menampilkan bandwith yang dikirim,kecepatan data, dsb.
3.3 Proses Aktivasi
Sebelum melakukan proses aktivasi
Clearchanne, hal yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah POP.POP(Point Of Present)adalah titik yang
digunakan untuk menghubungkan antara user dengan hjaringan ICON+. Dari sekian
banyak POP yang ada, akan ditentukan satu POP yang jarknya paling dekat dengan
lokasi user. POP biasanya berupa shelter,
PLC atau ruangan khusus di dalam area kantor PLN baik itu
GITET,GI,Kadist,APJ,UPJ, dan kantor PLN lainnya.
POP berfungsi menghubungkan user dengan jaringan backbone yang mengkombinasikan perangkat IP dengan perangkat berbasis SDH(Synchronous Digital Hierarchy)/SONET(Synchronous Optical Network).Jalur berbasis SDH yang dilalui bersifat ring,sehingga bila terjadi gangguan di salah satu jalur masih ada jalur lainnya.Contoh POP sebagai berikut.
Gambar 3.7 Shelter
Link User yang bervariasi layanannya
diambil dari POP ICON+ yang sudah terhubung dengan Backbone ICON+. DI POP, terdapat berbagai macam perangkat jaringan
seperti SDH,PDH, router,switch,dan lain lain. Link diambil dari salah satu port catalyst yang
telah dikonfigurasi Interface dan sub
interface-nya. Oleh MT(Management
Traffic), untuk kemudiaan didistribusikan kearah pelanggan.
Berikut adalah skema POP ICON+ :
Gambar
3.8 Skema
POP ICON+
Pada Teknologi SDH Backbone harus memiliki kehandalan
yang tingi, seperti menjamin kecepatan tranmisi, Fleksibilitas dan memiliki
kemampuan redundancy. Hal ini penting karena backbone merupakan kumpulan
bandwidth dari aplikasi-aplikasi di network bawahnya (access network).
Dengan semakin meningkatnya layanan/service yang
diberikan kepada pelanggan, kebutuhan bandwidth juga semakin meningkat.
Sehinga, untuk melayani services seperti triple play, Video On Demand (VOD),
IPTV, VoIP, dan sebagainya. Operator telekomunikasi membutuhkan transport
service yang lebih besar, cepat, dan memiliki redundancy jika terjadi masalah
di dalam network. Teknologi SDH yang sudah banyak digelar menjamin kecepatan,
namun kurang dalam masalah redundancy. Yang disediakan di dalam SDH hanya
kemampuan untuk protection. Di sisi lain, teknologi router dalam IP backbone
memungkinkan untuk melakukan redundancy ke banyak route. Sehingga jika
perangkat backbone mengalami gangguan, masih banyak cadangan rutenya (multi
fault handling). Saat ini ada teknologi ASON (Automatically Switched Optical
Network) atau disebut juga ASTN (Automatically Switched Transport Network) yang
memungkinkan penambahan fasilitas routing pada perangkat SDH. Teknologi ASON
merupakan intelegent network dimana secara otomatis mengoptimalkan routing
dalam interconnection SDH dan juga utilisasi bandwidth.
Istilah ASON
berasal dari ITU yang mendefinisikan architecture-nya, sedang kemampuan dalam
routing (control/data palane) berasal dari standar IETF[3] . Contoh kasus
instalasi clear channel bisa dimisalkan User A mengambil jalur backbone dari
POP di GITET Ungaran yang merupakan titik terdekat dari lokasi User A, dari POP
sampai ke lokasi User A dihubungkan dengan kabel fiber optic, karena hal
tersebut merupakan kelebihan ICON+ yang mampu menyediakan jalur fiber optic
langsung ke pelanggan, jadi User A terhubung dengan backbone ICON+ melalui POP
di GITET Ungaran.
Peralatan yang ada di sisi pelanggan adalah sebuah perangkat user, PDH, media converter, dan DDF. Dari perangkat user A di hubungkan dengan perangkat media converter dengan menggunakan kabel UTP yang di hubungkan dengan konektor RJ45 Straight, fungsi media converter adalah mengubah signal Ethernet ke signal E1 / sebaliknya. Dari media converter ke PDH menggunakan kabel E1 dengan konektor RJ48, sebelum ke PDH melewati Krone di DDF LSA untuk mensingkronkan TX-RX. Setelah itu diarahkan ke Point Of Present (POP) di GITET Ungaran yang menggunakan kabel fiber optik figure-8 ke perangkat yang ada di POP. Perangkat yang digunakan di POP adalah PDH, DDF LSA dan SDH, setelah melalui kabel figure-8 kemudian bertemu dengan PDH yang ada di POP lalu ke SDH dengan menggunakan kabel E1, sebelum ke SDH melewati Krone di DDF LSA untuk mensingkronkan TXRX. Dari sini, jalur diteruskan melalui jalur Backbone ICON+,skema instalasi ditunjukkan oleh gambar.
Gambar 3.9
Jalur kabel menuju pelanggan
Setelah
User A terhubung dengan backbone ICON+ maka langkah berikutnya adalah membuat
jalur untuk end point dari Clear Channel ini dimana titik tersebut merupakan
server User B. Jalur Clear Channel yang berawal dai POP di GITET Ungaran tadi
berakhir di POP GI Krapyak melalui jaringan backbone SDH ICON+, lalu di POP
Krapyak terdapat alat yang sama seperti di GITET Ungaran, yaitu ada SDH, PDH,
dan DDF LSA. Setelah masuk ke SDH dihubungkan ke PDH dengan menggunakan kabel
E1, sebelum ke PDH melewati Krone di DDF LSA untuk mensingkronkan TX-RX. Lalu
diarahkan ke user B menggunakan kabel fiber optik figure-8 ke perangkat yang
ada di user B, di user B bertemu dengan PDH kemudian ke media converter dengan
menggunakan kabel E1 dengan konektor RJ48. Sebelum ke media converter melewati
Krone di DDF LSA untuk mensingkronkan TX-RX, dan berakhir di perangkat user B
dengan menggunakan kabel UTP yang di hubungkan dengan konektor RJ45. Sehingga
konfigurasi jaringan Clear Channel tersebut dapat digambarkan sesuai dengan gambar
konfigurasi jaringan Clear Channel tersebut dapat digambarkan sesuai dengan gambar
Gambar 3.10 Skema
Jaringan Clear Channel ke User B
Sebenarnya,
pada dasarnya layanan ini seperti layaknya jalan lurus tanpa hambatan dengan
kecepatan per 1E1 = 2Mbps. Bila di gambarkan maka yang terjadi adalah garis
lurus seperti kabel straight di komputer A bertemu dengan kabel straight di
komputer B. Namun ada beda dalam segi jarak dan kecepatan yang stabil dan dapat
di atur atau termonitor.
That's it...Thanks for visit My Blog :v